Friday, 24 October 2014

Perkenalkan: Pemimpi dari Kotak Persegi Panjang

Siapa tak rindu aroma musim gugur di Albion?
Tersirat karya Tuhan dari gradasi warna dedaunan
semesta berkumpul menghangatkan diri, berselimut coklat di permukaan.
Angin bertiup, orang-orang bermantel tebal berlalu-lalang ingin cepat sampai ke rumah.


Ia disana berjalan di Piccadilly, oh tentu saja denganku disisinya. Mengitari sudut kota ini, berpegangan tangan saling menghangatkan. Saat itu pukul 1 pagi, dan kami masih berjalan-jalan. Dengannya aku tak kenal rasa lelah padahal hampir tiap hari aku merasakannya, terima kasih telah menjadi pemenuh kebutuhanku.

Esoknya, kami berangkat ke Fountains Abbey, bercerita banyak hal, tak jarang ceritanya selalu membuatku tertawa. Ia mencium keningku, seringkali mengusap kepalaku dengan sayang. Kami berjalan mengitari warisan dunia di Yorkshire kemudian kami sedikit berjalan ke utara dan pemandangan hijau luas memanjakan mata,
"Ah aku ingin tinggal disini",

Lalu kami naik kereta menuju Edensor, selama satu jam perjalanan yang tak terasa. Kami melihat pemandangan hijau luas dengan domba-domba yang bersebaran memakan rumput dan buah ceri. Ia mengajakku duduk di bawah pohon apel dan menggelar tikar untuk menikmati suara alam ini. Sungai di kota kecil ini begitu tenang airnya, tak jarang ia menyiuknya dan mengajakku bermain-main, damai sekali. Sekedar ingin melepas lelah, ia mengajakku minum teh di sebuah kedai kecil, terpilihlah Camomile Tea seharga £2 dan kami menikmati kebersamaan ini. Hawa dingin yang menemani perjalanan kami menebarkan aroma kehangatan, betapa bahagianya ia memenuhi semua mimpiku selama ini terutama dengannya disisiku.

Puas menghabiskan waktu di kota kecil itu kami naik bus menuju Sheffield dan ia mengajakku makan nasi biryani sangat cocok dengan hawa yang selalu kurindukan ini, dingin. Saat perut sudah tidak memprotes lagi, ia memaksaku pergi ke Liverpool
"Aku ingin ke Anfield, kau harus menemaniku kesana!".
memang dasar pergi dengan seseorang yang impulsif itu selalu penuh kejutan.
Sekitar 2 jam perjalanan kereta, kami tiba di Liverpool. Ia bahagia sekali dan mengajakku untuk ikut Stadium Tour. Aku senang melihatnya senang, semoga ia pun begitu..

Malam hari, seperti biasa, ia tak kenal kata diam. Ia mengajakku berkeliling London, menyisiri sungai Thames kemudian memperdebatkan waktu di Greenwich karena ia akan pergi ke US dan berbicara masalah waktu kami yang akan berbeda. Setelah lelah dengan kebahagiaan hari itu, kami duduk di St. James Park dan ia memelukku, aku selalu merasa nyaman berada di pelukannya, aku juga selalu merasakan aman bila didekatnya. Lalu kami tertidur di rumput hijau taman ini dan aku terbangun di kotak persegi panjang rumahku, ah semoga semua ini bisa menjadi nyata..

No comments:

Post a Comment