Tuesday, 10 February 2015

Jika Ditemani Ruang Sunyi

Jadi apa yang sudah kamu temukan?


Sepulang mengajar, aku duduk memainkan beberapa buah lagu. Banyak yang menemaniku memetik gitar dalam diam. Biola yang rusak, kipas angin yang tak hentinya berputar, atau tumpukan sepatu yang sudah jarang kupakai. Setidaknya mereka tidak menggangguku seperti jeritan dan pukulan pedagang keliling yang berusaha mencari perhatian. Dan lagi, aku rindu sunyi, sepi yang bersahabat dengan jari-jariku.

Mungkin, adakah kamu rasakan hal yang tak sama? Entah aku yang tidak menyenangkan lagi atau mungkin sesuatu yang muncul dari pikiran terburukku. Aku selalu berjaga, bahkan akan selalu kujaga semua yang telah kamu berikan, perasaan, dan juga pikiranmu agar tak mudah kau ubah. Atau akankah itu semua terjadi? Entah itu kapan, bagaimana, dan seperti apa rasanya.

Jika berbicara selera, kamu sungguh seseorang yang berselera aneh karena telah memilihku. Pernahkah kamu melihat senyum yang mudah menghiasi wajahku? Sadarkah? Bahkan kamu sendiri yang selalu mengingatkan hal itu. Apakah aku selalu mengungkapkan perasaanku? Kamu merasakannya? Dan apa yang bisa aku banggakan? Yang bisa membuatmu bangga karena memiliki seseorang sepertiku? Tidak, sama sekali tidak ada.

Namun entah bagaimana, saat berdua saja, kamu selalu membuatku tampak begitu sempurna. Selalu memberikan senyum yang sama di setiap keadaanku. Membelai rambutku saat aku sebal, datang mendekat saat aku ingin bicara, memelukku saat menangis, dan menyayangiku dengan tulus hingga aku menikmatinya.

Hanya saja selalu ada yang aku takutkan, sayang.
Akan seperti apa kemudian? Akankah kita bertahan? Menyerah pada keadaan? Atau mungkin melawan takdir yang telah ditetapkan?

No comments:

Post a Comment