Tuesday, 24 March 2015

Hujan

Siang itu terlampau lelah.

Aku baru saja terjatuh di tengah hujan lebat penuh sambaran kilat dan gemuruh yang terus bertabrakan, pakaian dan sepatuku basah, tergerus arus dan cipratan air yang menyembur dari pelataran jalan. Kesal, hanya seorang yang membantuku, itu pun lelaki tua renta yang rela hujan-hujanan ke tengah jalan untuk membangunkan. Padahal disana banyak anak muda yang sedang berteduh, sekali lagi kuucapkan terima kasih kakek telah menolongku. Akankah aku menjadi seperti para pemuda-pemudi itu jika ada yang terjatuh di tengah hujan? Entahlah, aku harus banyak intropeksi lagi.
Teramat lelah hingga kuketuk gerbang pintunya, tak ada yang menyahut. Kesal lagi, entah kenapa aku kesal sekali, hingga cengeng saking kesalnya. Kuhubungi tak ada jawaban apa-apa. Aku kesal, sungguh. Badanku lemas, kepalaku berputar, diluar gerbang hujan besar, kehujanan belum lagi dingin karena yang kukenakan tak lagi kering, bergerak pun tak sanggup. Aku cuma mau kamu datang memelukku, hanya itu. Tapi ternyata, kamu tidak ada di dalam...
Mau kemana aku tak tau, bergerak pun sakit, hingga kupaksakan untuk menunggu.
Kamu pun datang, rasa kesal entah lenyap begitu saja. Ingin cengeng lagi tapi kutahan karena kamu kehujanan juga demi menemuiku. Akhirnya kuterima pelukan hangatmu, perawatanmu, dan hangatnya perasaanmu. Terima kasih. Terima kasih, sayang.
Hingga aku terlelap tidur disamping memelukmu. Yang tak pernah kupercayai setelah aku bangun, kamu juga terlelap disampingku. Kebahagianku hari ini, melihat kamu tetap disampingku saat aku terpejam hingga membuka mata lagi. Terima kasih karena selalu menjagaku dengan segala kekhawatiranmu. Terima kasih, sayang..

No comments:

Post a Comment